Biarkan sang waktu berputar tanpa suatu kepastian menyertainya. Bersama relatifitas menjalani kehidupan yang nyata namun terkadang terselimuti fiksi. Seperti detik ini yang sedang mengharapkan hadirnya sesuatu yang mampu mengunci seluruh syaraf dan menjadi kaku. Melihatnya lagi seperti beberapa waktu lalu meskipun hanya sesaat. Bahagia padahal tanpa disadari itu hanyalah mimpi-mimpi yang tak akan ada ujungnya. Terpesona didalam lamunan khayalan terjerumus dalam jurang harapan nihil. Mampu tersenyum melihat auranya yang hanya bisa dilihat dengan jarak dan batas seperti ini. Walaupun ada dan nyata, tapi sekali lagi, ini hanya mimpi yang tak kunjung usai. Beban seperti ini rasanya sudah tak bisa kuhindari lagi selama aku masih tenggelam dalam tidur panjangku, selama tak ada yang membangunkanku dari dunia yang aku buat sendiri. Menganggapnya adalah sebuah cerminan yang lain namun nyata. Mengatakan banyak persamaan namun sebetulnya terlalu berbeda. Tak pernah sekalipun aku seperti ini, berdiam berpangku tangan mengkhayal semua seakan ada dihadapanku secara nyata dan jelas. Dan kemudian aku sadar itu hanya fatamorgana, namun lagi-lagi aku menolak. Dan akhirnya, selanjutnya adalah aku menghentikan seluruh dunia khayalanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.