saat kita memilih dan memulai cerita kita sendiri, apakah kita yakin kita akan siap dengan cerita yang akan kita jalani? dan apakah sanggup kita menjadi tokoh yang sangat sulit dalam cerita kita? awalnya kita berfikir bahwa cerita yang kita pilih hanya sekedar cerita yang mungkin penuh dengan kebahagiaan. kenyataannya malah menghajar kita kembali. pasti dalam cerita kita nanti kita akan mengalami suatu peristiwa dimana kita bisa berfikir tanpa logika.
seperti halnya dengan orang yang selalu merasa bahwa ia akan bahagia dengan apa yang menjadi ceritanya. ia akan menjalani peran yang mana selalu ceria, tersenyum, dan selalu tertawa. dan ia tidak tahu, bahwa airmatanya akan mengalir suatu saat nanti.
mungkin kita akan memasukkan beberapa tokoh dalam cerita yang kita buat. entah kita akan bertemu dengan siapa, berbagi rasa bahagia dengan siapa, dan bersenang-senang dengan siapa saja. tanpa kita sadari, beberapa tokoh itu akan menjadi bumerang, yang akan membuat kita menangis atau tidak habis pikir mengapa tokoh tersebut 'menyerang' balik kita. padahal kita berharap cerita kita akan berjalan mulus dan selalu berada diatas.
khayalan kita mungkin menjadi awal dari cerita yang kita buat. sayangnya khayalan itu lama kelamaan menjadi nyata dan kita terhipnotis dalam alur kisah yang kita bayangkan selama ini. perlahan, semuanya berjalan sesuai apa yang kita mau, keegoisan pun ikut serta dalam alur cerita kita. lama kelamaan, khayalan itu berubah menjadi suatu kisah yang mungkin buruk untuk kita. tanpa kita sadari, airmata
khayalan kita mungkin menjadi awal dari cerita yang kita buat. sayangnya khayalan itu lama kelamaan menjadi nyata dan kita terhipnotis dalam alur kisah yang kita bayangkan selama ini. perlahan, semuanya berjalan sesuai apa yang kita mau, keegoisan pun ikut serta dalam alur cerita kita. lama kelamaan, khayalan itu berubah menjadi suatu kisah yang mungkin buruk untuk kita. tanpa kita sadari, airmata
(to be continued)